Rizal Ramli Ungkap Penyebab 6 Tahun Kepemimpinan Jokowi Ekonomi RI Merosot

Dalam tahun keenam di luar sebelum Covid-19, sebetulnya sudah ada indikator ekonomi RI merosot, atau sejak satu setengah...
Raymond - Ekonomi,Rabu, 21-10-2020 10:21 WIB
Rizal Ramli Ungkap Penyebab 6 Tahun Kepemimpinan Jokowi Ekonomi RI Merosot
Rizal Ramli

Nusantaratv.com - Ekonom senior Rizal Ramli menanggapi perihal 1 tahun kepemimpinan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Dalam sebuah program yang bertajuk ‘Satu Tahun Pemerintahan Jokowi-Maruf Amin, dari Pandemi Sampai Demonstrasi’ di salah satu tv swasta, Mantan Menko Maritim ini banyak menceritakan berbagai hal, salah satunya mengenai ekonomi RI.

Rizal pada kesempatan itu menjelaskan, sejauhmana sepak terjang Jokowi dalam memimpin negara ini, Meski memang jika dihitung sejak periode pertama, artinya mantan Gubernur DKI itu sudah 6 tahun di masa kepemimpinan.

“Dalam tahun keenam di luar sebelum Covid-19, sebetulnya sudah ada indikator ekonomi RI merosot, atau sejak satu setengah tahun yang lalu. Kami berkali-kali katakan awas, lampu kunging atau lampu merah, karena buat bayar bunga utang aja pakai utang,” ujar Rizal.

Ia juga menjelaskan, bagaimana kondisi ekonomi pada saat ia menjadi Menko Ekuin di era pemerintahan KH Abdurrahman Wahid, atau Gusdur.

“Tax ratio kita termasuk paling rendah, jaman saya menko ekonomi tahun 2000, tax ratio itu 11,5 %, hari ini 2019 10 % dan karena covid 8 %,” ungkapnya.

Rizal juga menyindir soal utang pemerintah yang semakin hari semakin membengkak. “Kalau soal utang, gak ada covid, utang kita juga sudah besar kok. Dan hari ini, utang pemerintah yang besar termasuk BUMN utang swastanya lebih kecil, saya gak bisa salahkan Pak Jokowi, karena ide untuk membangun jalan tol utara Jawa dari Banten ke Banyuwangi saya yang bujuk pak SBY, masak Daendels yang mampu bangun, kalau itu aja visible ini juga visible,” jelasnya.

Sosok yang akrab disapa RR ini juga menceritakan, bagaimana SBY saat itu meminta sarannya, mengenai pembangunan proyek infrastruktur tersebut.

“SBY tanya saya bagaimana caranya, saya katakan buka saja tender, masing-masing 450 kilometer, asing kita undang, kontraktornya pakai nasional, kita gak usah sibuk sediakan uang, yang penting returnnya didalam US dolarnya 11 %.

“Dua tahun tiga tahun pasti jadi. tapi seperti biasa, dikasih sama menterinya, dan meterinya kasih konco-konconya masing2 60 km, gak bisa rise money, akhirnya setelah 10 tahun pak sby hanya kebangin 160 km, jalan tol,” tambahnya.

Gunakan Uang Investor dalam Proyek Pembanguan Infrastruktur 

“Saya dulu sarankan pakai uang investor aja, uang negara kita pakai untuk jalan kabupaten. Kemudian Pak Jokowi masuk dia kesal, kok masih 160 km, dia paerintahkan BUMN, satu lagi beli konsesi yang gak dikerjakan sama pemiliknya, selama 10 tahun.

“Dia (Jokowi) perintahkan BUMN untuk membangun jalan tol, BUMN ini kelakukannya biayanya 150% 200% lebih mahal, jalan tolnya jadi, tapi 200 % lebih mahal dan utang bumn lebih besar.

Rizal Ramli Ibaratkan Utang RI Bagaikan Petinju Kena ‘Jap’

“Nah orang kalau utangnya banyak mirip seperti petinju, kena Jap. Misalnya saja Sinar Mas gak bisa bayar 13 miliar dolar,  akhirnya krisis, hari ini udah ada japnya yaitu 44 perusahaan keuangan non bank ,asuransi gagal bayar 500 triliun inilah japnya,” jelasnya.

Menurutnya, tak banyak yang bisa dilakukan oleh tim ekonomi saat ini, hal ini juga yang menyebabkan kondisi ekonomi RI semakin terpuruk.

“Banyak yang gak paham kalau utang sudah terlalu banyak, maka untuk membayar bunganya harus minjam, yang kedua sertiap kali pemerintah menerbitkan SUN, dana publik likuiditas publik kesedot, karena bunga sun lebih mahal dari deposito, dan kemudian dijamin 100 % padahal kalau ditaro dibank yang dijamin hanya 2 miliar per nasabah, per bank, tapi beli sun 1 triliun dijamim, apa yang terjadi, setiap kali pemerintah menerbitkan sun, seteprtiga dari likiusitad kesedot untuk beli sun,” ungkapnya.

Ia menyebut, wajar, dengan skema tersebut ekonomi RI tersendart. “Apa dampaknya, pertumuhan kredit tahun lalu hanya 6%, kalau ekonomi kita hanya 15,8 %, hari ini samai oktober hanya 3% itulah yang memukul daya beli, bukan hanya regulasi, bagaimana mau hidup kalau uang yang beredar pertambahan kreditnya hanya 3% belum lagi alokasi untuk usaha kecil hanya 17 % dari 3 % itu, dibawah gak ada likuiditas inilah yang memukul mengapa ekonmi RI merosot, regulasi penting, birokrat kita brengsek, kerja memeras pengusaha, tapi itu nanti kita benahin,” tegasnya.

Rizal Ramli Soal Regulasi di Era Gusdur

“Saya di jaman Gusdur, regulasi biasa saja, ekonomi masuk minus 3%, 21 bulan kita naikkan ke 4,5 %, gaji pegawai negeri dan ABRI kita naikan 125% dalam 21 bulan.

“Poin saya adalah apakah solusinya dengan bikin UU 900 halaman, nanti dibikin PP nambah lagi 500 halaman, jangan jangan nanti nambah lagi jadi 150 0 halaman. Siapa yang bisa baca? kalau mau menyederhanakan cukup 100 halaman itu saya salut jagoan tidak ada keraguan,” ketusnya.

Dengan demikian lanjut Rizal, pengusaha akan mengalami kesulitan dalam mempelajari regulasi yang diberikan oleh pemerintah.

“Sehingga nanti pengusaha mau tau UU Indonesia dia harus bayar lwyer mahal buat belaja pasal-pasal. Dan yang kedua soal regulasi gratis, emang birokrat mau kasih gratis, mereka justru malah menghambat, kalau mau gratis kasih ke presidne aja, artinya kalau gak nyogok gak jalan itu barang, jadi tindak tegas birokrat yang korup ini,” tambahnya lagi.

Bahkan, Rizal mengaku saat ia menjadi kepala Bulog, tak sedikit pejabat yang dipecat, karena merugikan negara.

“Saya waktu dibulog kita pecat 26 kepala Dolog dan direktu, agar kapok semua, yang bresngsek hajar, itu jauh lebih bermanfaata dari bukin uu yang kurang lebih 900 halaman.

“Pertanyaannya dalam kaitannya ini, kita akan recover gak kondisi ini, kalau kondisi normal bisa saja seperti huruf V anjlok dan naik lagi, Tapi saat ini, bakal mirip huruf W, anjok, naik dikit dan turun lagi.

“Jadi, bagaimana mau memperbaiki kondosi ekonomi kita, saya kan dari awal sudah jelaskan, kita minta tiga hal. 

  1. hajar corona perlu 300 T 
  2. kasih makan yang miskin dan gak mampu
  3. naikkan produksi pangan 200 triliun

“Tapi apa yang terjadi , pak Jokowi gunakan cara saya, gunakan realokasi angaran stratges, tapi masih ada proyek ini proyek itu, ini prioritasnya yang utama apa? akhirnya apa? biaya penanganan krisis semakin besar, caranya apa akhirnya minjem lagi dengan bungan yang lebih besar?,” tanya Rizal Ramli.

Rizal Ramli Soal Kelakuan Menteri Keuangan ‘Terbalik’

“Banyak yang gak ngerti, mengapa menteri keuangan terbalik mendapat hadiah, simpel kok, misalnya bung Johhny Plate pasang plang, kasih pinjaman uang dengan bunga 15%, trus saya datang Pak Johnny saya mau pinjam uang dengan bunga 17% selama 10 tahun.

“Pak Johnny pasih kasih saya hadiah, ajak main golf dan lain-lain. Saya gak habis pikir, ini sangat simpel sekali.

“Tidak ada menteri keuangan lain yang dapat hadiah, karena mereka pelit-pelit, mereka datang ke bank dan kasih bunga lebih kecil, itu yang dilakukan menteri keuangan Singapura, Jepang dan China,” tegasnya.

Adapun menurutnya, dengan pinjaman berbunga besar akan berdampak besar terhadap kondisi ekonomi RI. “Dampaknya besar, kalau selisih bunga 2% minjam 10 miliar dolar, tambahan bunganya tambah sepertiganya, yang bayar akhrinya rakyat kita. Ini tindakan kriminal, dan ini kalau di negara lain ini bisa dihukum.

“Dan satu lagi yang menjadi perhatian saya adalah, adanya upaya mendesak Bank Indonesia untuk mencetak uang. Bahasanya sopan memang, Bank indonesia diwajibkan membeli surat utang pemerintah di pasar pimer, harusnya UU BI yang lalu hanya boleh beli di pasar sekunder, saya tau guebrnur BI tolak, tapi karena beliau ditekan.

“Ini bahaya, tiba-tiba ada usulan ganti aja UU bank Indonesia, atau ganti direksinya sup[aya yang lebih manut, tapi poin saya bukan itu masalahnya , masalahnya adalah disektor fiskal, ril, dan bukan moneter, jadi jangan yang digoyang-goyang ini sektor moneter, dan ini bahaya buat rupiah kita,” tutupnya.

 

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
1
angry
0
sad
0
wow
0