Disindir RI Pengemis Utang Bilateral, Begini Cara Sri Mulyani Ngeles!

Mas @jokowi, mau dibawa kemana RI ? Surat utang bunganya semakin mahal. Untuk bayar bunga utang saja, harus ngutang lagi....
Raymond - Ekonomi,Senin, 30-11-2020 10:55 WIB
Disindir RI Pengemis Utang Bilateral, Begini Cara Sri Mulyani Ngeles!
Menkeu Sri Mulyani

Nusantaratv.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani angkat suara atas kritikan ekonom senior Rizal Ramli soal utang pemerintah. Ia meminta kepada para pejabat eselon I untuk menjelaskan hal tersebut kepada publik.

"Ada orang hari-hari ini suka bicara masalah utang, sampaikan saja bahwa di Perpres 72 waktu anggaran APBN 2020 dengan estimasi defisit sekian, itu pembiayaannya adalah dari SBN, pinjaman, ada yang bilateral maupun multilateral," kata Sri Mulyani dalam video conference tentang APBN KiTa edisi November, Senin (23/11/2020) lalu.

Ia pun meminta agar pihak di luar pemerintah memahami apa yang sedang dikerjakan oleh pihaknya. "Jadi waktu kita sedang menjalankan Perpres jangan kemudian muncul reaksi-reaksi, seolah-olah kita seperti orang yang belum punya rencana. Itu kan semuanya isu dari Perpres 72 sudah diomongkan, sudah disampaikan ke publik," jelasnya.

Selain itu, Sri juga meminta kepada Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Luky Alfirman menjelaskan defisit APBN 2020 yang sudah dilebarkan ke level 6,34% beserta strategi pembiayaan pemerintah di tahun 2020. Bahkan, dia minta agar rincian penerbitan utang pemerintah juga bisa disampaikan ke publik.

Ia menambahkan, bahwa utang semua negara mengalami peningkatan, tak hanya Indonesia. Utang setiap negara terus meningkat karena pandemi virus Corona.

Ia mencontohkan, untuk negara-negara G20, jumlah utang meningkat rata-rata mulai dari 30% hingga 50% karena krisis yang disebabkan oleh pandemi.

"Untuk G20 terlihat mereka rata-rata utang selama ini sebelum krisis kemudian 100% dari GDP, sekarang melonjak ke 130%, untuk emerging country rata-rata 50% GDP dan naik ke 50-70%" jelasnya.

Sebelumnya diketahui, Rizal ramli menyindir kondisi utang RI yang makin hari makin memprihatinkan. Bahkan menurutnya, untuk membayar bunganya saja Indonesia harus mengeluarkan jumlah yang sangat besar.

"Mas @jokowi, mau dibawa kemana RI ? Surat utang bunganya semakin mahal. Untuk bayar bunga utang saja, harus ngutang lagi. Makin parah," cuit Rizal di akun Twitter pribadinya. "Makanya mulai ganti strategi jadi 'pengemis utang bilateral' dari satu negara ke negara lain,, itupun dapatnya recehan itu yg bikin 'shock'." ujarnya di akun Twitternya @RamliRizal.

Seperti diketahui, hingga di penghujung September 2020 total utang pemerintah mencapai Rp5.756,87 triliun. Itu artinya, rasio utang pemerintah sebesar 36,41% terhadap PDB. 

Adapun, total utang pemerintah itu terdiri dari pinjaman sebesar Rp864,29 triliun dan surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 4.892,57 triliun. Selain itu, Indonesia juga saat ini berada di posisi ke-6 sebagai negara dengan utang luar negeri (ULN) terbesar dunia di negara berpendapatan rendah dan menengah.

Dimana infornasi ini dikutip dari laporan Bank Dunia bertajuk International Debt Statistics 2021, Selasa (13/10) kemarin, dimana utang luar negeri Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun.

Adapun dalam data tersebut dirinci, bahwa utang luar negeri Indonesia pada 2009 sebesar US$179,4 miliar, pada 2015 sebesar US$307,74 miliar. Sedangkan pada 2016 sebesar US$318,94 miliar, kemudian pada 2017 sebesar US$353,56 miliar.

Sementara itu, pada 2018 sebesar US$379,58 miliar, dan pada 2019 sebesar US$402,08 miliar. Dimana utang terbesar berasal dari utang jangka panjang pada 2019 sebesar US$354,54 miliar, sementara itu jangka pendek sebesar US$44,79 miliar.

Meski memang tak hanya Indonesia, ada juga negara lain yang memiliki pendapatan rendah dan menengah yang juga masuk dalam 10 besar dengan utang luar negeri terbanyak adalah Argentina, Brazil, India, Meksiko, Afria Selatan, Thailand, Turki, dan Rusia.

Di atas adalah grafik Imbal Hasil Surat Utang (tenor 10 tahun) Negara Indonesia, Filipina, dan Vietnam tahun 2014-2020 (Juni).

Sementara itu, lembaga rating Standard&Poors, Fitch, dan Moody's tahun 2014-2019 menyatakan, bahwa Indonesia dan Filipina sebenarnya memiliki kemampuan bayar utang yang sama. Jadi seharusnya Indonesia dan Filiipina dapat memberikan imbal hasil yang setara kepada investor. Tetapi faktanya imbal hasil yang harus dibayarkan oleh Indonesia (6,26%) lebih tinggi sebesar 3,2% di atas Filipina (2,9%).

 

 

 

 

 

 

 

 

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
1