Luhut Ngamuk Ada Impor Gantungan Pakaian, Soal Pangan Gimana??

Anda bisa bayangkan gantungan baju saja kita masih impor,
Raymond - Ekonomi,Minggu, 25-10-2020 08:42 WIB
Luhut Ngamuk Ada Impor Gantungan Pakaian, Soal Pangan Gimana??

Nusantaratv.com - Tak hanya di sektor pangan, Indonesia juga ternyata doyan melakukan impor pada keperluan yang sebetulnya tidak termasuk dalam kebutuhan yang mendesak. Salah satunya adalah gantungan pakaian.

Tentunya ini menjadi pertanyaan banyak pihak, termasuk Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan.

"Anda bisa bayangkan gantungan baju saja kita masih impor," tegasnya, di hadapan para dosen dari berbagai universitas dalam tayangan virtual Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Sabtu, 24 Oktober 2020.

Atas dasar itulah, ia minta kepada lembaga kebijakan pengadaan barang dan jasa pemerintah (LKPP) untuk menghentikan impor barang yang di Indonesia bisa dibuat oleh UMKM.

"Saya bilang sama LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah), ngapain itu impor-impor semua. Suruh saja bikin di dalam negeri. Itu kan bukan rocket science. Kenapa enggak bisa?," tegasnya.

Kendati demikian, ia juga mengakui, bahwa selama ini RI kerap bergantung dengan sumber daya alam selama puluhan tahun. Maka dari itu, pemerintah berupaya mengurangi eksploitasi alam.

"Kekayaan alam kita selalu bergantung selama puluhan tahun, nah kita gak mau lagi seperti ini. Indonesia mau menambah value added, menciptakan lapangan kerja, teknologi, kemudian juga pajak dan value added pada kita semua," tambahnya.

Lantas kemudian, ia mengungkapkan banyak beberapa di antara kementerian/lembaga (K/L) saat melakukan belanja justru dimanfaatkan untuk mengimpor barang.

"Jadi kita punya dana Rp200 triliun buat program pembelanjaan seperti ini. Banyak oleh kementerian/lembaga (K/L) hanya impor saja, tidak menggunakan produk dalam negeri. It's take of live. Jadi, kesempatan ini kita lakukan semua," tutupnya.

Seperti diketahui, mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Desember 2019 nilai impor mencapai USD14.268,7 juta, turun 1,64 persen (USD238,1 juta) dibanding bulan sebelumnya. Demikian pula volumenya turun 14,98 persen menjadi 12.143,6 ribu ton. Nilai impor Januari 2020 terdiri dari impor migas USD1.987,1 juta (13,93 persen) dan nonmigas USD12.281,6 juta (86,07 persen).

Tiga negara asal impor utama ditempati Tiongkok USD3.997,6 juta (28,03 persen), diikuti oleh Singapura USD1.441,4 juta (10,10 persen), dan Jepang USD1.096,4 juta (7,50 persen). Sementara pelabuhan bongkar yang terdapat di Provinsi DKI Jakarta masih menjadi tempat bongkar barang impor utama di Indonesia dengan porsi sebesar 52,34 persen (USD7.468,5 juta). 

Impor Gula

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor gula dan kembang gula mengalami kenaikan yang signifikan pada Februari 2019, jika dibandingkan bulan sebelumnya.

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, di antara komoditas nonmigas lain, impor gula dan kembang gula meningkat paling besar pada Februari 2018, yaitu 216,99 persen atau senilai USD 100,9 juta.

Pada Januari 2019, impor gula dan kembang gula sebesar 59 ribu ton dengan nilai USD 19 juta. Sedangkan Februari 2019, impor gula tercatat sebesar 384 ribu ton dengan nilai USD 128 juta.

"Golongan gula dan kembang gula mengalami peningkatan terbesar," ujar dia di Kantor BPS, Jakarta, Jumat (15/3/2019).

Impor Bawang Putih

Impor bawang putih mengalami lonjakan pada Juli 2019 dari bulan sebelumnya dan menjadi salah satu penyumbang terbesar impor produk konsumsi RI pada bulan tersebut. Adapun, berdasarkan data BPS, impor bawang putih pada Juli 2019 mencapai 71.693 ton dengan nilai US$86,12juta.

Impor Beras

Sementara itu, mengantisipasi potensi krisis pangan dunia di tengah pandemi Covid-19, seperti yang diingatkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), Perum Bulog akan memberi ruang impor beras demi memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso atau akrab disapa Buwas mengatakan, impor beras bukan opsi yang pertama. Ya, impor beras sebagai alternatif bila memang kebutuhan beras tidak mencukupi sebagaimana prediksi FAO terkait krisis pangan dunia.

“Memang sudah ada warning dari FAO. Iya, jujur saja saya sudah menghubungi beberapa negara yang tadinya mereka tidak akan ekspor berasnya ke negara lain, tapi sebenarnya kita bisa mendapatkan itu,” ujanrya saat raker bersama Komisi IV DPR, (25/6) lalu.

 

 

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0