Tambang China Belum Beroperasi Optimal, HBA Maret Naik ke USD 67,08 per Ton

Kenaikan HBA Maret 2020 Dipicu Tambang Batubara di China yang Belum Beroperasi Optimal.
Adiantoro - Ekonomi,Sabtu, 07-03-2020 10:13 WIB
Tambang China Belum Beroperasi Optimal, HBA Maret Naik ke USD 67,08 per Ton
Ilustrasi batu bara. (Okezone)

Jakarta, Nusantaratv.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif melalui Keputusan Menteri (Kepmen) Nomor 69.K/30 MEM/2020 menetapkan harga jual pasar untuk komoditas batubara (Harga Batubara Acuan/HBA) pada Maret 2020 sebesar USD 67,08 per ton, naik tipis sebesar USD 0,19 per ton dibandingkan HBA Februari sebesar USD 66,89 per ton.

Agung Pribadi, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, mengungkapkan kenaikan HBA pada Maret 2020 salah satunya dipicu oleh tambang batubara di China yang belum beroperasi optimal setelah periode libur tahun baru Imlek dan merebaknya penyebaran virus corona sehingga pasokan menjadi berkurang.

"Harga Batubara Acuan Maret 2020 ini naik tipis, hanya sekitar 0,28 persen, dikarenakan tambang belum beroperasi pasca imlek dan merebaknya virus corona, sehingga pasokan turun. Di sisi lain permintaan dari Jepang, India dan Korea mengalami kenaikan," ujar Agung di Jakarta, dalam keterangannya, di laman esdm.go.id, Sabtu (7/3/2020).

Diungkapkannya, HBA Januari akan digunakan untuk penjualan langsung (spot) selama satu bulan pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Veseel).

Lebih lanjut, Agung menyebut nilai HBA sendiri diperoleh rata-rata empat indeks harga batubara yang umum digunakan dalam perdagangan batubara dunia, yaitu Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt's 5900 pada bulan sebelumnya.

Baca Juga: Menteri ESDM: Gas Bumi Masih Jadi Tulang Punggung Energi Nasional

Sementara itu, mayoritas harga acuan untuk 20 mineral logam (Harga Mineral Acuan/HMA) juga mengalami fluktuatif harga pada Februari 2020. Misalnya, untuk harga Nikel turun menjadi USD 14.029,72/dry metric ton (dmt) dari bulan sebelumnya, yakni USD16.107,27/dmt.

1. Kobalt: USD 33.326,09/dmt, naik dari USD 32.361,11/dmt
2. Timbal: USD 1.891,33/dmt, turun dari USD 1.920,47/dmt
3. Seng: USD 2.239,61/dmt,turun dari USD 2.349,64/dmt
4. Aluminium: USD 1.723,11/dmt, turun dari USD1.780,22/dmt
5. Tembaga: USD 5.786,04/dmt, turun dari USD 6.178,78/dmt
6. Emas sebagai mineral ikutan: USD1.571,59/ounce, naik dari USD1.536,14/ounce
7. Perak sebagai mineral ikutan: USD17,81/ounce, turun dari USD17,91/ounce.
8. Ingot timah Pb 300, Pb 200, Pb 100, Pb 050, 4NINE: sesuai harga ingot timah yang dipublikasikan ICDX pada hari penjualan
9. Logam emas dan Logam perak sesuai harga logam emas yang dipublikasikan London Bullion Market Association (LBMA) pada hari penjualan
10. Mangan: USD 3,73/dmt, naik dari USD 3,66/dmt
11. Bijih Besi Laterit/Hematit/Magnetit: USD1,28/dmt, turun dari USD1,34/dmt
12. Bijih Krom: USD 2,56/dmt, turun dari USD 2,51/dmt
13. Konsentrat Ilmenit: USD 4,64/dmt, naik dari USD 4,56/dmt
14. Konsentrat Titanium: USD10,52/dmt, turun dari USD 10,84/dmt

Baca Juga: Menteri ESDM Tekankan Kemandirian Energi

Diketahui, HMA adalah salah satu variabel dalam menentukan Harga Patokan Mineral (HPM) logam berdasarkan formula yang diatur dalam Kepmen ESDM Nomor 2946 K/30/MEM/2017 tentang Formula Untuk Penetapan Harga Patokan Mineral Logam.

Variabel penentuan HPM logam lainnya adalah nilai/kadar mineral logam, konstanta, corrective factor, treatment cost, refining charges, dan payable metal.

Besaran HMA ditetapkan Menteri ESDM setiap bulan dan mengacu pada publikasi harga mineral logam pada index dunia, antara lain oleh London Metal Exchange, London Bullion Market Association, Asian Metal dan Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX).

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0