Kebutuhan Terhadap Kelapa Sawit Untuk Bahan Baku Green Diesel Akan Terus Meningkat

Ditambah lagi, pemerintah juga telah menjalankan mandatori biodiesel 30% atau B30 yang akan berkembang menjadi B40 maupun...
Ramses Rianto Manurung - Ekonomi,Selasa, 27-10-2020 20:55 WIB
Kebutuhan Terhadap Kelapa Sawit Untuk Bahan Baku Green Diesel Akan Terus Meningkat
Ilustrasi green diesel B20 di SPBU/ist

Jakarta, Nusantaratv.com-Kebutuhan akan kelapa sawit sebagai bahan baku green diesel bakal terus meningkat di masa mendatang.  

Ditambah lagi, pemerintah juga telah menjalankan mandatori biodiesel 30% atau B30 yang akan berkembang menjadi B40 maupun B50 dalam waktu dekat sehingga butuh lebih banyak kelapa sawit untuk dimanfaatkan. 

Hal tersebut dikatakan Kasubdit Keteknikan dan Lingkungan Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Effendi Manurung dalam webinar, Selasa (27/10/2020).

“Maka diperlukan kebijakan DMO kelapa sawit untuk memenuhi konsumsi dalam negeri,” ujar dia dalam webinar, Selasa (27/10).

Di sisi lain, Pemerintah melalui Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) masih melakukan kajian terhadap potensi penerapan Domestic Market Obligation (DMO) kelapa sawit. Kajian ini juga dibarengi dengan upaya pengembangan Green Diesel D100 yang terus digencarkan pemerintah.

Pemerintah pun masih terus melakukan kajian terhadap peluang penerapan DMO tersebut. Mengingat kebijakan DMO kelapa sawit harus diperhitungkan dengan tepat karena dampaknya akan mengurangi devisa negara dari ekspor minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO).

Baca juga: Pemerintah Berkomitmen Lanjutkan Program B30 dan Industri Kelapa Sawit Nasional

Effendi juga menekankan pentingnya proyeksi kebutuhan CPO untuk ketahanan energi. Dalam hal ini, pemerintah berkeinginan agar upaya-upaya pemenuhan kewajiban DMO kelapa sawit harus tetap meminimalisasi potensi pembukaan lahan baru yang tentu akan mempengaruhi lingkungan hidup.

Pemerintah juga masih membutuhkan analisis rantai pasok untuk menjaga kestabilan harga CPO sebelum kebijakan DMO kelapa sawit diberlakukan. 

“Diperlukan perhitungan agar tidak ada pihak yang dirugikan melalui penerapan DMO,” ujar Effendi.

Karenanya harus ada penetapan range harga DMO kelapa sawit batas bawah dan batas atas yang dapat diterima oleh semua pihak, baik itu produsen green diesel, produsen kelapa sawit, bahkan hingga ke level petani kelapa sawit. 

Effendi tidak menjelaskan secara pasti kapan kebijakan DMO kelapa sawit ini akan dilaksanakan oleh pemerintah.

Di saat bersamaan, pihak Kementerian ESDM sendiri saat ini juga masih gencar melakukan kajian terhadap pengembangan Green Diesel atau D100 di Indonesia. Salah satunya melalui pengembangan infrastruktur pengolahan green diesel atau proyek Green Refinery yang dijalankan PT Pertamina (Persero) dan pembangunan Katalis Merah Putih. 

“Kami juga sedang mengkaji pengembangan mandatori biodiesel beyond B30 dengan memanfaatakan D100,” kata Effendi.

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0