Erdogan Serang Macron, Prancis Tarik Dubes dari Turki

Erdogan Telah Berulang Kali Menyerang Presiden Prancis dalam Beberapa Bulan Terakhir.
Adiantoro - Dunia,Minggu, 25-10-2020 08:40 WIB
Erdogan Serang Macron, Prancis Tarik Dubes dari Turki
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Istimewa)

Jakarta, Nusantaratv.com - Prancis mengatakan menarik duta besarnya untuk Turki pada Sabtu (24/10/2020). Sikap ini diambil setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan Presiden Prancis Emmanuel Macron memerlukan perawatan mental terkait pandangannya mengenai Islam.

Mengutip Politico, Minggu (25/10/2020), Erdogan telah berulang kali menyerang presiden Prancis dalam beberapa bulan terakhir. Turki dan Prancis berselisih mengenai berbagai masalah, termasuk sengketa perairan teritorial antara Ankara dan Athena, konflik di Libya dan wilayah separatis Armenia di Nagorno-Karabakh, Azerbaijan.

Apa masalah individu yang disebut Macron dengan Islam dan dengan Muslim? Macron membutuhkan perawatan mental - kata Erdogan, Sabtu (24/10/2020).

Hal itu dikatakan Erdogan karena Macron baru-baru ini berjanji akan melawan Islam radikal. Sementara itu, seorang pejabat kepresidenan Prancis mengatakan mereka menarik duta besarnya dari Ankara untuk berkonsultasi dan akan bertemu dengan Macron guna membahas situasi tersebut.

Kemarahan dan penghinaan bukanlah metode - ucap pejabat kepresidenan.

Diketahui, pada awal bulan ini, Macron menggambarkan Islam sebagai agama 'dalam krisis' di seluruh dunia dan mengatakan pemerintahannya akan mengajukan rancangan Undang-Undang (UU) pada Desember mendatang untuk memperkuat Undang-Undang 1905 yang secara resmi memisahkan gereja dan negara di Prancis.

Dia juga mengumumkan pengawasan sekolah yang lebih ketat dan kontrol yang lebih baik atas pendanaan masjid dari luar negeri.

Namun, perdebatan tentang peran Islam di Prancis telah mencapai intensitas baru setelah pemenggalan kepala seorang guru bernama Samuel Paty, setelah menunjukkan kartun Nabi Muhammad di dalam ruang kelas tentang kebebasan berbicara di sebuah sekolah dekat Paris oleh seorang Chechnya berusia 18 tahun yang memiliki kontak dengan seorang jihadis di Suriah


 

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0