50 Penduduk Desa di Mozambik Dipenggal Serdadu ISIS

Mayat para korban yang terpotong-potong ditemukan berserakan di hutan awal pekan ini.
Ramses Rianto Manurung - Dunia,Rabu, 11-11-2020 20:00 WIB
50 Penduduk Desa di Mozambik Dipenggal Serdadu ISIS
Kelompok ekstrem jihadis Mozambik/ist

Mozambik, Nusantaratv.com-Di tengah wabah covid-19, dunia dikejutkan dengan dengan kejadian sadis di sebuah desa di Mozambik. Dilaporkan, sebanyak 50 orang penduduk desa dipenggal dan dicincang. Para korban dibantai di lapangan bola oleh kelompok ekstrem yang mengaku militan Islamis.

Mayat para korban yang terpotong-potong ditemukan berserakan di hutan awal pekan ini.

Serangan diawali penangkapan atas sejumlah warga desa. Mereka yang mencoba melarikan diri langsung dibunuh.

Sementara anggota kelompok militan lainnya membakar rumah dalam serangan yang dilakukan pada Jumat (6/11/2020) dan Sabtu (7/11/2020) itu.

Dalam tiga tahun terakhir kelompok jihadis menghancurkan desa dan kota sebagai bagian dari pemberontakan di provinsi Cabo Delgado yang kaya gas dan diperkirakan beraset ratusan triliun.

Serangan kali ini menjadi yang terbaru dari gelombang kekerasan para jihadis yang berkembang di Mozambik. Para ekstremis ini terkait dengan ISIS.

Beberapa dari pria bersenjata dilaporkan menyerukan takbir saat menyerbu sebuah desa lalu menculik kaum perempuan dan membantai korban di dekat Muatide.

Baca juga: Pria Ini Dipenjara Seumur Hidup Usai Gagal Meledakkan Bom di Gereja Paris

4.000 militan diperkirakan berperang melawan pemerintah Mozambik dan kelompok lain di saat kelompok Islam mencoba mendirikan 'kekhalifahan'.

"Mereka membakar rumah-rumah kemudian mengejar penduduk yang melarikan diri ke hutan dan memulai tindakan mengerikan," ujar seorang kepala polisi Mozambik, Rabu (11/2020).

Dalam sebuah serangan, lebih dari 12 orang pria dan anak laki-laki dipenggal dalam upacara inisiasi.

"Polisi mengetahui pembantaian yang dilakukan pemberontak melalui laporan orang-orang yang menemukan mayat di hutan," ujar petugas di distrik Mueda.

“Mayat-mayat itu sudah membusuk dan tidak bisa dikenali lagi," imbuhnya.

Provinsi utara yang kaya gas ini merupakan  rumah bagi pengembangan energi senilai $60 miliar atau Rp 844 triliun.

Meski demikian warga yang sebagian besar muslim di kawasan tersebut hanya menerima sedikit uang. 

Pada bulan Maret, ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan di kawasan selatan di mana beberapa proyek gas tengah dikembangkan perusahaan seperti Exxon Mobil dan Total. Inggris juga disebut-sebut ikut memberikan pinjaman hingga £1 miliar atau Rp 18,6 triliun untuk salah satu proyek pipa gas di negara Afrika tersebut.

Sejak 2017, kerusuhan telah menewaskan 2.000 orang dan lebih dari 400.000 lainnya mengungsi akibat konflik dan mencari perlindungan di kota-kota terdekat.


 

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
1
sad
0
wow
0