Dokter Emirianti: Pernikahan Usia Muda Sangat Beresiko

Pemerintah bersama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan sejumlah pihak terkait mendeklarasikan Gerakkan Nasional Pendewasaan Usia Perkawinan. Di mana nantinya...

Webinar membahas pernikahan usia muda/ist

Jakarta, Nusantara TV-Meski pemerintah telah merevisi batas usia minimal perkawinan di Indonesia menjadi 19 tahun melalui Undang-undang Nomor 19 tahun 2019. Namun pada kenyataannya pernikahan usia muda atau pernikahan anak masih marak terjadi di Indonesia. Padahal secara medis pernikahan usia muda sangat beresiko.

Dokter di Klinik Dewan Perwakilan Daerah yang terletak di dalam komplek MPR/DPR yang juga Pemerhati Anak, dr Emirianti MARS menegaskan pernikahan usia muda sangat beresiko bagi kesehatan terutama pada wanita. 

Hal tersebut disampaikan dr Emirianti MARS saat tampil sebagai pembicara dalam webinar yang mengusung tema 'Peran Pekerja Sosial Masyrakat Menanggulangi Pernikahan Anak' pada Jumat (9/4/2021). 

Turut hadir Ketua Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia, DR Linda Poernomo , M.SI dan Ketua BK3SDKI Prof DR Budiharjo, M.SI dan Prof DR Bambang Saputra, SH,MH. Juga Ketua Dewan Pakar Lembaga Aspirasi dan Analisa Strategis Putu Elvina dan Roostien Ilyas Pakar Anak.

Webinar dibawakan oleh host Tiga Sekawan Footprint Research Widya Chalid, Mitra A, Irna P, Siti Aliptinah dan Co-Host Rooosiah Y serta dipandu oleh moderator Maria H Mujianto, SE, MM.

"Pernikaha usia muda sangat beresiko bagi kesehatan terutama pada wanita. Wanita yang menikah muda maka kemungkinan akan hamil di usia muda. Resiko hamil di usia muda 
kemugkinan akan keguguran besar," kata dr Emirianti MARS.

Dokter yang pernah berperan sebagai Permaisuri Kusuma Wardhani dalam film serial kolosal Admiral Cheng Ho atau Laksamana Cheng Ho lebih lanjut memaparkan resiko-resiko yang kemungkinan terjadi pada wanita yang menikah di usia miuda. 

"Peningkatan tekanan darah pada saat hamil berpotensi menyebabkan terjadinya preeklamsia. Anemia karena kurang asupan makanan mengandung zat besi yang bisa menyebabkan bayi lahir prematur," paparnya.

"Bayi-bayi prematur akan lahir dengan berat badan rendah sehingga beresiko mengalami gangguan pencernaan, gangguan pernafasan serta penglihatan," imbuhnya.

Baca juga: MUI Dukung Gerakan Pendewasaan Usia Perkawinan

Resiko berbahaya lainnya, sambung dr Emirianti MARS, ibu yang hamil di usia muda bisa meninggal dunia saat melahirkan karena tubuhnya belum siap untuk melahirkan 

"Belum lagi secara mental wanita menikah muda rentan menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), mengalami masalah depresi, trauma dan gangguan kecemasan.

Dr Emirianti MARS menegaskan faktor pendidikan dan keluarga berperan penting dalam mencegah terjadinya pernikahan di usia muda. 

"Pengetahuan akan dampak pernikahan usia muda menjad penting sekali," pungkasnya. 

Menurut oragnisasi kesehatan dunia (WHO), kata Emirianti, yang disebut pernikahan dini atau pernikahan usia miuda (early married) apabila pasangan atau salah satu pasangannya berusia di bawah 19 tahun. 

Pandemi Covid-19

Pernikahan usia dini atau muda memang masih menjadi masalah klasik di Indonesia. 

Beragam faktor melatarbelakangi pernikahan usia muda. Beberapa di antaranya sebagai solusi persoalan ekonomi keluarga, pengaruh norma agama dan budaya setempat, serta minimnya edukasi terkait pernikahan dini.

Perkembangan terbaru pandemi covid-19 disinyalir telah memicu meningkatnya jumlah pernikahan dini di Indonesia. Pada Januari-Juni 2020, 34.000 permohonan dispensasi pernikahan dini (di bawah 19 tahun) diajukan, 97% di antaranya dikabulkan. Padahal sepanjang 2019, hanya terdapat 23.700 permohonan.

Pemerintah sendiri terus berupaya memperbaharui batasan usia minimal pernikahan.

Perubahan utama dalam UU No 16 Tahun 2019 dibanding UU Nomor 1 Tahun 2014 ada pada pasal 7. Sebelumnya pria boleh menikah minimal umur 19 tahun, sementara wanita usia 16 tahun. Dalam UU baru yang ditandatangani Jokowi terdapat usia minimal yang sama pada pria dan wanita saat menikah.

Bahkan baru-baru ini, pemerintah bersama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan sejumlah pihak terkait mendeklarasikan Gerakkan Nasional Pendewasaan Usia Perkawinan. Di mana nantinya batas minimal perkawinan baik untuk laki-laki maupun perempuan sama-sama 21 tahun. 

like
dislike
love
funny
angry
sad
wow
Login dengan
LIVE TV & NETWORK