Gertak Wiro Sableng, Inovasi Percepatan PTSL di Cilacap

Kementerian ATR/BPN terus berinovasi percepat PTSL di Kabupaten Cilacap.
Gertak Wiro Sableng, Inovasi Percepatan PTSL di Cilacap
Kepala Kantah Kabupaten Cilacap Yuli Mardiyono/ Kementerian ATR/BPN

Cilacap, Nusantaratv.com - Sesuai visi menyelesaikan pendaftaran tanah di tahun 2025, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) terus melakukan percepatan dalam melakukan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) dengan berbagai macam metode. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Kantor Pertanahan (Kantah) Kabupaten Cilacap.

Sebagai kabupaten terluas di Jawa Tengah dengan luas 225.361 hektare, Kabupaten Cilacap memiliki 1.179.000 bidang tanah yang berada di 24 kecamatan dan 284 desa. Untuk diketahui, hingga saat ini bidang tanah yang sudah terdaftar sebanyak 373.000 bidang tanah, masih tersisa 806.000 bidang tanah. Tentu hal ini menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sesuai target waktu yang telah ditentukan.

Baca Juga: Ini pengakuan Camat Konawe Soal Tiga "Desa Setan" Yang Tengah Viral

"Alhamdulillah tahun ini kami sudah selesaikan pendaftaran tanahnya 100% di tanggal 09-09-19, dengan hasil 50.000 bidang tanah untuk SHAT dan 76.000 bidang tanah untuk PBT. Sampai saat ini, kami sedang melakukan penyelesaian fisik yaitu kita harus melakukan scanning warkah, surat ukur, buku tanah, dan sebagainya sehingga sebelum 2020 kami sudah siap bagikan sertipikatnya ke 23 desa," ujar Kepala Kantah Kabupaten Cilacap Yuli Mardiyono di Cilacap, (6/11/2019).

Yuli Mardiyono mengungkapkan strategi yang digunakan untuk percepatan pendaftaran tanah adalah dengan gerakan pasang patok serentak yang dilakukan secara partisipatif oleh masyarakat yang disingkat Gertak. 

"Khusus untuk lokasi yang terbuka seperti persawahan dan tergenang saat musim hujan kita harus punya inovasi, maka saya putuskan semua teman-teman untuk langkah pertama melakukan gerakan pasang patok serentak yaitu Gertak," kata Yuli Mardiyono.

Selain percepatan, menurutnya metode ini sangat efektif karena dinilai membantu saat musim hujan tiba. "Daerah terbuka kita utamakan dulu untuk mengantisipasi musim hujan, setelah patoknya terpasang kita foto menggunakan metode fotogrametris untuk menentukan batasan bidang tanahnya. Jadi, saat tergenang air tidak kehilangan bidang-bidang tanah yang telah terukur sebelumnya," jelas Yuli Mardiyono.



Reaksi Kamu

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0