Negara-negara Yang Pernah Mengalami Kebangkrutan

Nusantaratv.com - 24/06/2022 09:55

Ilustrasi uang dolar.
Ilustrasi uang dolar.

Penulis: Armansyah | Editor: Supriyanto

Nusantaratv.com - Ternyata tidak hanya perusahaan, negara juga bisa bangkrut akibat utang yang besar.    

Berdasarkan data Dana Moneter Internasional (IMF), saat ini lebih dari 60 negara yang berada dalam kondisi keuangan sangat rentan. Teranyar, Sri Lanka mengumumkan negaranya gagal membayar utang luar negerinya sebesar US$ 51 miliar atau setara dengan Rp 729 triliun (asumsi kurs Rp 14.300).  Krisis ini bermula dari ketidakmampuan mengimpor barang-barang penting setelah pandemi COVID-19.

Namun, ini bukan kali pertama sebuah negara mengalami krisis keuangan hingga gagal membayar utang. Berikut daftar negara yang pernah mengalami kebangkrutan yang dikutip dari beberapa sumber. Kegagalan negara-negara ini pada umumnya akibat tidak mampu membayar utang luar negeri.


Sri Lanka

Tahun ini, Sri Lanka mengakui ketidakmampuannya dalam membereskan krisis ekonomi. Diawali dari ketidakmampuan mengimpor barang-barang penting setelah pandemi COVID-19, menekan pendapatan dari pariwisata, dan pengiriman uang, Sri Lanka tak mampu membayar utang luar negeri sebesar US$ 51 Miliar atau setara dengan Rp 729 Triliun (asumsi kurs Rp 14.300).

Hal tersebut dinyatakan oleh Kementerian Keuangan Sri Lanka bahwa negaranya gagal dalam membayar semua utang luar negeri, termasuk pinjaman dari pemerintah asing serta dana talangan IMF.


Ekuador

Negara yang pertama yang pernah mengalami kebangkrutan adalah negara yang terletak di benua Amerika bagian selatan, yakni Ekuador.

Negara ini menyatakan bahwa tak ingin membayar hutang pada tahun 2008 silam. Pemerintah negara ini menyebutkan bahwa utang yang diberikan oleh hedge fund asal AS ini tak bermoral.

Namun, sebenarnya negara ini mampu untuk membayar utangnya yang sebesar Rp144 triliun itu.

Tetapi pemerintah Ekuador bersikukuh untuk tak membayar utangnya. Pemerintah saat itu mengklaim utang negara di masa lalu disebabkan aksi korupsi di pemerintahan sebelumnya.

 
Argentina

Negara kedua adalah negara Argentina, negara ini tak bisa melunasi utang kepada kreditur.

Menurut sebuah sumber, permasalahan ini dikarenakan kebijakan pemerintahnya yang mematok US$1 sama dengan 1 peso Argentina.

Hal ini berakibat mata uang Argentina dengan dolar AS menjadi tidak akurat dan menyebabkan kepanikan di masyarakat.

Masyarakat banyak yang menarik uangnya di bank. Lalu pada tahun 2005 dan 2010, Argentina mengumpulkan seluruh kreditur untuk berdiskusi terkait restrukturisasi utang senilai US$100 miliar atau Rp1.440 triliun.

Beruntung, mayoritas kreditur setuju dengan skema restrukturisasi yang ditawarkan Argentina.

Namun, pemerintah Argentina kembali mengajukan pinjaman uang sebesar Rp720 triliun ke Dana IMF pada 2018.

Alasan Argentina melakukan pinjaman adalah untuk menangani krisis ekonomi yang sedang terjadi saat itu.

Argentina mengungkapkan tak bisa membayar utang ke IMF sebesar Rp648 triliun pada tahun ini.


Yunani

Pada tahun 2012 lalu, negara Yunani tidak bisa membayar utang sebesar US$138 miliar.

Lalu pada tahun 2015, nilai utang itu terus meningkat hingga US$360 miliar. Karenanya banyak penduduk Yunani yang jatuh miskin.

Jumlah tunawisma naik hingga 40 persen pada 2015. Sementara, pengangguran naik dari 10,6 persen pada 2004 menjadi 26,5 persen pada 2014.


Venezuela

Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan pemerintahannya tak bisa membayar seluruh utangnya pada tahun 2017 lalu.

Venezuela tercatat memiliki utang kepada sejumlah negara. Beberapa negara tersebut, antara lain China dan Rusia.

Ketika utang melonjak, jumlah masyarakat miskin di Venezuela ikut meningkat. Banyak masyarakat yang tak mampu membeli bahan pokok karena harga melonjak lebih cepat ketimbang upah yang diterima.

 
Zimbabwe

Negara terakhir adalah negara yang terletak di benua Afrika, yakni Zimbabwe. Negara ini mempunyai utang pada tahun 2008 sebanyak US$4,5 miliar atau Rp64,8 triliun.

Tak hanya utang yang dihadapi, pada tahun itu jumlah penggangguran di negara tersebut ikut melonjak hingga 80 persen.

Akibatnya penduduk negara ini berhenti menggunakan bank dan berhenti untuk membayar pajak.

Bahkan penduduknya tak lagi menggunakan mata uang Zimbabwe untuk alat tukar jual beli.

Zimbabwe juga mengalami hiperinflasi yang menyebabkan masyarakanya sudah tak bisa lagi menjangkau barang-barang pokok.

Sehingga mata uang tak lagi berarti dan masyarakat kembali menggunakan sistem barter dalam kegiatan jual belinya.

Lebanon 

Negara yang dikenal sebagai “Swiss dari Timur Tengah” itu dinyatakan bangkrut pada 2020. Saat itu, untuk pertama kali dalam sejarah, Lebanon gagal membayar utang Eurobond sebesar 1,2 miliar dolar AS. Lebanon saat itu menghadapi krisis ekonomi sangat parah di tengah demonstrasi besar-besaran menentang korupsi. 

Mata uang poundsterling Lebanon yang dipatok terhadap dolar AS, kehilangan 40 persen nilainya di pasar gelap. Bank juga tidak mempunyai uang keras untuk membayar deposan. Usai pengumuman bangkrut, pengangguran di Lebanon meningkat 50 persen. Selain itu, tiga perempat dari populasi negara berada dalam kemiskinan. 
 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in