Benarkah Obat Herbal Lebih Baik dari Obat Kimia?

Nusantaratv.com - Keberadaan obat herbal makin bisa diterima oleh masyarakat. Kini banyak orang mengonsumsi obat herbal untuk menjaga ketahanan tubuhnya.

Ilustrasi bahan-bahan untuk obat herbal
Nusantaratv.com - Keberadaan obat herbal makin bisa diterima oleh masyarakat. Kini banyak orang mengonsumsi obat herbal untuk menjaga ketahanan tubuhnya. Lalu bagaimana dengan obat kimia? Kemajuan teknologi membuat proses pembuatan obat herbal dan obat kimia semakin canggih. Kedua obat ini terkesan saling bersaing dalam merebut perhatian masyarakat modern saat ini.
 
Obat-obatan kimia seperti ibuprofen, masih diburu orang untuk mengatasi sakit kepala, saat orang menderita flu mereka mencari obat analgesik dan saat terkena alergi, banyak orang menggunakan antihistamin untuk menyembuhkannya. Tentu selain ketiga obat kimia di atas, masih banyak lagi obat-obatan kimia lain yang dijadikan rujukan untuk mengobati penyakit yang dideritanya.
 
Sedangkan untuk obat-obatan herbal, banyak orang menggunakan ginkgo biloba untuk menambah daya ingat, suplemen bawang putih untuk menstabilkan darah, melatonin untuk membantu tidur yang lebih baik, dan suplemen minyak ikan untuk menambah kesehatan kardiovaskuler. 
 
Lalu, sebaiknya menggunakan obat herbal atau obat kimia?
 
Perbedaan Obat Herbal dan Obat Kimia
 
Bahan dasar untuk membuat obat herbal biasanya dilakukan dengan mencampur beberapa bahan dari tanaman seperti, bunga, buah, daun, dan akar tumbuhan. Karena berasal dari tanaman yang tumbuh di alam, masyarakat meyakini bahwa obat herbal hampir tidak memiliki efek samping. 
 
Namun, obat kimia sebagiannya juga ada yang bahan dasarnya menggunakan tanaman. Jadi tidak semua obat kimia menggunakan zat kimia.
 
Seperti aspirin, digoxin, dan morfin ketiga obat kimia ini bahan dasarnya berasal dari tanaman. Jadi apa sebenarnya perbedaan dasar obat herbal dan obat kimia yang beredar di pasaran?

Obat Herbal
 
Proses pembuatan obat herbal yang berbahan dasar tanaman itu biasanya dilakukan tanpa melalui penyaringan khusus untuk mendapatkan bahan aktif. Dari keterangan praktisi obat herbal, mereka meyakini bahwa penggunaan tanaman secara utuh dapat mengurangi efek racun (efek samping) dari pemakaian obat herbal nantinya.
 
Biasanya para peracik obat herbal telah mengetahui komposisi dan kandungan beberapa tanaman sebelum diolah menjadi obat herbal. Proses pembuatan dengan cara mencampur beberapa bahan dari aneka tumbuhan ini menjadi berlawanan dengan praktik kedokteran modern yang menghindari polifarmasi.
 
Keberadaan obat herbal oleh sebagian masyarakat kini sudah bukan sebagai obat alternatif, tapi sudah menjadi pilihan utama. Banyak orang meyakini suplemen organik ini mengandung lebih sedikit bahan kimia dan kemungkinan timbulnya iritasi dan alergi dapat dibilang minim.
 
Namun, meski obat herbal bagus untuk kesehatan, obat ini tidak dapat mengobati penyakit.
 
 
Obat Kimia
Proses pembuatan obat kimia biasanya menggunakan teknologi khusus untuk mengambil ekstrak atau bahan aktif tertentu dari tanaman yang digunakan sebagai bahan dasar.
 
Pembuatan obat-obatan kimia diatur secara ketat oleh administrasi makanan dan obat-obatan (BPOM). Kualitasnya dikontrol secara ketat dan harus menjalani inspeksi sebelum dijual ke publik. Kandungan bahan-bahan dalam obat tersebut semuanya terdaftar sehingga kita tahu komposisi obat tersebut.

Ilustrasi obat kimia
Sebelum dipasarkan, obat kimia telah melalui serangkaian tes ilmiah dan terbukti efektif, bahkan bekerja lebih cepat dan kadang-kadang secara instan. Selain itu, obat buatan manusia ini telah digunakan selama beberapa dekade untuk menyembuhkan kondisi yang mengancam jiwa termasuk kanker, tekanan darah tinggi, kolesterol, dan lain-lain.
 
Namun, jika dikonsumsi dalam jangka waktu panjang, obat kimia dapat merusak organ tubuh. Begitu juga dengan obat sintetis, dapat menyebabkan kecanduan. Pasien yang membutuhkan obat resep untuk penggunaan jangka pendek dapat membuat dirinya kecanduan obat.
 
Ada beberapa obat-obatan yang dapat disalahgunakan penggunaannya. Beberapa obat untuk insomnia dan rasa sakit bisa memiliki fungsi ganda, selain bisa menyembuhkan, obat ini juga berfungsi sebagai narkotika yang membuat pasien kecanduan.
 
Amankah Mengonsumsi Obat Herbal?
 
Keberadaan obat herbal sudah sejak dulu, namun hingga kini penelitian ilmiah untuk mendalami kandungan dan keamanan obat herbal, belum banyak dilakukan. Pengaturan peredarannya pun tidak seketat obat medis, oleh sebab itu, tingkat keamanannya masih belum dapat dipastikan.
 
Hingga saat ini, belum ada standar yang jelas untuk sediaan suplemen organik. Obat jenis ini dapat disediakan dalam beberapa bentuk, seperti ramuan untuk diencerkan atau bubuk. Selain itu, derajat kandungan bahan aktif pada suplemen herbal dan dosis yang disarankan juga belum ada.

Suplemen obat herbal
Konsumsi obat herbal juga berpotensi alami efek samping, jika pemakaiannya bersamaan dengan obat sintetis konvensional. Salah satu efek samping yang pernah ditemukan adalah gabungan Echinacea dengan steroid anabolik yang berakibat kerusakan hati (hepatotoksisitas).
 
Karena regulasi keberadaan obat herbal tidak seketat obat kimia, gambaran atau kejadian yang merupakan efek samping dari penggunaan obat herbal tidak tercatat dengan baik. Sehingga berbagai efek samping yang terjadi akibat konsumsi suplemen organik tidak diketahui.
 
Penggunaan suplemen herbal tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Hal ini dikarenakan daya tahan tubuh setiap manusia berbeda. Dengan kata lain, walaupun ada dua orang pasien mengalami keluhan yang sama, dan menggunakan suplemen sejenis, belum tentu obat tersebut memberikan efek serupa dan tanpa efek samping. 
 
Perhatikan Hal-Hal Ini
 
Jika hendak mengonsumsi suplemen herbal, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan ahli kesehatan untuk memastikan dosis yang tepat, memahami efek samping, dan memperhatikan reaksinya terhadap obat lain kalau dikonsumsi bersamaan.

Ilustrasi aneka bahan obat herbal
Berikut ini merupakan beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan obat alami:
 
Keamanan
Karena yakin bahwa obat herbal dibuat dari bahan-bahan alami, banyak orang berasumsi bahwa mereka aman dan yakin tidak ada efek samping. Meski faktanya belum tentu demikian.
 
Sebenarnya ada obat herbal juga dapat menimbulkan efek samping yang serius. Misalnya tanaman elderberry mentah bisa beracun, St. John’s wort dapat berinteraksi berbahaya dengan antidepresan, dan akar valerian dapat memperparah efek obat penenang.
 
Keamanan obat herbal terhadap wanita hamil dan menyusui belum diteliti secara ilmiah. Jadi untuk wanita yang dalam kondisi seperti ini, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen herbal.
 
 
Kualitas
Obat-obatan herbal tidak diatur secara ketat seperti obat-obatan lainnya. Di beberapa negara, produsen jamu tidak harus memberikan bukti kemanjuran atau kemurnian sebelum memasarkan produk mereka.
 
Oleh karena itu, beberapa suplemen mungkin mencantumkan bahan-bahan dengan tidak tepat atau bahkan mengandung senyawa yang tidak disebutkan pada label.

like
dislike
love
funny
angry
sad
wow
Login dengan
LIVE TV & NETWORK