Ngeri, Uji Coba Bom Hidrogen Korut Hasilkan Ledakan 17 Kali Lebih Dahsyat dari Insiden Hiroshima

Sebuah data baru dari satelit Jepang telah menampilkan hasil yang paling detail tentang efek uji coba senjata termonuklir Korea Utara pada 2017, termasuk perkiraan hasil peledakan bom.
Ngeri, Uji Coba Bom Hidrogen Korut Hasilkan Ledakan 17 Kali Lebih Dahsyat dari Insiden Hiroshima
Ilustrasi

Pyongyang, Nusantaratv.com - Sebuah data baru dari satelit Jepang telah menampilkan hasil yang paling detail tentang efek uji coba senjata termonuklir Korea Utara pada 2017, termasuk perkiraan hasil peledakan bom.

Melansir Okezone pada Kamis (15/11/19), perkiraan awal uji senjata termonuklir Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK) yang digelar pada 3 September 2017 menempatkan kekuatan ledakan antara 50 dan 70 kiloton, dengan beberapa revisi kemudian menyebutkan hasil ledakan mencapai 400 kiloton.

Sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Dr. K. M. Sreejith dari Pusat Aplikasi Luar Angkasa ISRO menerbitkan temuan mereka bulan lalu di jurnal Royal Astronomical Society, Geophysical Journal International.

Para ilmuwan menggunakan data dari satelit Jepang, Advanced Land Observing Satellite 2 (ALOS-2), untuk untuk mengukur perpindahan di permukaan Gunung Mantap, di mana uji bom hidrogen terjadi.

Mereka menggunakan teknik yang disebut Synthetic Aperture Radar Interferometry (InSAR), yang menurut US Geological Survey (USGS) umumnya digunakan untuk secara akurat mengukur deformasi tanah yang terkait dengan gunung berapi, yang dapat membengkak sebelum meletus.

"Radar berbasis satelit adalah alat yang sangat kuat untuk mengukur perubahan di permukaan bumi, dan memungkinkan kami memperkirakan lokasi dan hasil uji coba nuklir bawah tanah," kata Sreejith dalam siaran pers yang dilansir Sputnik, Kamis.

"Sebaliknya dalam seismologi konvensional, estimasi tidak langsung dan tergantung pada ketersediaan stasiun pemantauan seismik."

Satelit itu mengukur pergeseran permukaan gunung beberapa meter tepat di atas ledakan, yang juga menggerakkan sisi puncak Gunung Mantap sekira 0,5 meter.

Mereka memperkirakan ledakan bom itu sendiri terjadi sekitar 540 meter di bawah puncak, menciptakan rongga di dalam gunung dengan radius 66 meter.

Meski tes dilakukan jauh di bawah tanah, seperti yang telah menjadi praktik standar selama beberapa dekade untuk meminimalkan bencana radioaktif, beberapa kebocoran radiasi dicatat setelah ledakan 2017.

Muncul juga kekhawatiran bahwa gunung itu akan runtuh dengan sendirinya, melepaskan bahan radioaktif yang terperangkap di dalamnya yang tersimpan setelah uji coba bom.

Namun, perkiraan berdasarkan perpindahan dari tanah yang diambil dari citra satelit oleh lembaga antariksa India, Indian Space Research Organisation (ISRO) telah meningkatkan hasil tersebut, menjadi yang jauh lebih kuat antara 245 dan 271 kiloton.

Itu sekira 17 kali lebih kuat dari bom "Little Boy" yang dijatuhkan Amerika Serikat (AS) di Kota Hiroshima, Jepang pada Agustus 1945.

Namun, untuk ukuran bom hidrogen, kekuatan itu bisa dikatakan masih agak kecil, dengan hasil uji bom hidrogen, H-AS pertama pada 1952 adalah 10,2 megaton, hampir 700 kali lebih kuat dari Little Boy.(Cal)

 



Reaksi Kamu

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0