Beijing Segera 'Pensiun' dari Daftar 200 Kota Paling Tercemar di Dunia

Beijing dilaporkan segera keluar dari daftar 200 kota paling tercemar di dunia tahun ini, dengan konsentrasi kabut asap berbahaya turun ke rekor terendah pada Agustus
Beijing Segera 'Pensiun' dari Daftar 200 Kota Paling Tercemar di Dunia
Beijing

Beijing, Nusantaratv.com - Beijing dilaporkan segera keluar dari daftar 200 kota paling tercemar di dunia tahun ini, dengan konsentrasi kabut asap berbahaya turun ke rekor terendah pada Agustus, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Air IQAir Visual yang dirilis pada Kamis (12/9/19).

Beijing akan mengurangi kadar partikel kecil yang merusak paru-paru yang dikenal sebagai PM2.5 hampir 20% tahun ini dibandingkan dengan 2018, dan hampir sepertiga dari 2017.

Dimana sebelumnya, Beijing telah berada di garis depan perang melawan pencemaran yang diluncurkan pada tahun 2014 dan telah bekerja untuk menutup dan merelokasi industri yang berpolusi, meningkatkan standar bahan bakar dan emisi dan mengurangi konsumsi batubara baik di kota maupun di daerah sekitarnya.

Namun, kualitas udara kota pada tahun 2019 kemungkinan masih akan lebih tinggi dari pedoman konsentrasi rata-rata PM2.5 tahunan WHO 10 mikrogram per meter kubik.

Baca Juga : Pesan Iran Pada AS Usai Bolton mundur

Dan juga lebih tinggi dari standar nasional sementara Cina sendiri yaitu 35 mikrogram.

Dalam delapan bulan pertama tahun ini, Beijing memiliki rata-rata pembacaan konsentrasi PM2.5 per jam sebesar 42,6 mikrogram, 19,3% lebih rendah dari tahun lalu.

Angka-angka itu kurang dari setengah dari rata-rata pada periode yang sama tahun 2009, IQAir AirVisual mengatakan dalam sebuah studi data dari Kedutaan Besar AS di Beijing serta 34 stasiun pemantauan resmi pemerintah.

  China telah mengatakan bahwa mereka akan mengadopsi langkah-langkah yang lebih efisien dan bertarget selama kampanye melawan polusi pada 2019.

Juga akan membatasi penjualan kembang api dan bahan bakar bulan ini untuk memastikan hal itu meminimalkan polusi udara.

 

Sumber : Reuters 

Terjemahan : (NTV/Cal)