Aktivis Mahasiswa Nilai Framing Sebuah Majalah Tak Berhasil Pengaruhi Publik

Menurut Ryan masyarakat saat sudah paham kredibilitas dan framing yang diciptakan media

karikatur framing / Foto: Education

Nusantaratv.com - Pemberitaan sebuah majalah terkemuka mendapat sorotan dari Ketua BEM Universitas Azzahra, Ryan Jaya yang belakangan dinilai tendensius dan jauh dari kode etik jurnalistik berimbang. 

"Sangat disayangkanya warisan para pendahulu Media tersebut seakan disalahgunakan. Pemberitaanya hari hari ini terlihat menyerang sebagian kelompok untuk kepentingan. Data yang disajikan seringkali tidak tepat. Bahkan ketika terbukti tidak benar, Media itu santai saja tidak melakukan klarifikasi pemberitaan," kata Ryan.

Ryan mencontohkan terhadap kasus dugaan Korupsi Bansos yang diberitakan melibatkan Gibran mengenai goodie bag Bansos dan Sritex.

"Asal sebut namanya dan tidak terbukti ketika Juliari Batubara tegaskan Gibran Rakabuming tidak terlibat korupsi bansos. Bahkan hingga saat ini Plt Jubir KPK menyatakan tidak menemukan indikasi keterlibatan Gibran," jelasnya.

Lebih jauh menurut aktivis yang satu ini, Pemberitaan tidak berimbang juga tercermin pada kejadian KM 50, dimana tertulis menuduh polisi terlibat pelanggaran HAM bahkan bertendensi HAM berat. Pada akhirnya terungkap terang, Komnas HAM tegaskan tidak ada pelanggaran berat HAM.

"Media itu santai saja, padahal nama orang-orang yang dituduhkan tanpa bukti tersebut sudah terlanjur dicitrakan rusak. Dimana tanggungjawabnya?," ungkap Ryan. 

Masih kata Ryan, sangat disayangkan nama besar media itu terkerdilkan oleh kejumawaan ketidakmauan meminta maaf. Karena sudah merasa. Terlalu asik bisa memuat berita investigatif.

"Masyarakat awam mungkin terlalu sering membaca media itu dengan gaya asal sebut yang tidak detail sumbernya. Sehingga seakan mereka menganggap apa yg disebut Media itu selalu benar," jelasnya.

Lebih jauh menurut Ryan, pada pemberitaan Bancakan Bansos Banteng, sampai saat ini selain Juliari, belum ada kader PDIP lain yang menjadi tersangka. Namun nama baik mereka-mereka yang disebut di dalam pemberitaan sampai dijadikan ilustrasi cover sudah kadung dirusak kredibilitasnya.

"Gambar di cover dan sebutan 'Madam' seakan jadi gaya-gaya media itu dalam mengarahkan pada  orang-orang yang ingin dijatuhkan, karena semua orang paham siapa dua orang wanita yang kuat dan tinggi posisinya di PDIP yaitu Puan Maharani dan Megawati," ujarnya.

Kembali menurut Ryan masyarakat saat sudah paham kredibilitas dan framing-framing yang diciptakan media. Buktinya dalam empat Survey terakhir yang dilansir Februari ini tentang elektabilitas Parpol, PDIP menempati posisi teratas bahkan lebih tinggi dari perolehan Pemilu 2019. 

"Masyarakat sudah tidak percaya dengan kata-kata menurut sumber penegak hukum, sumber di kementerian dan yang disebut sumber sumber yang kemudian ditutupi jati dirinya," jelasnya.

Ryan berharap media-media seperti itu dapat berbenah dan mengakui kesalahan, dan merombak diri. Sebab, kalau tidak berbenah sepertinya tidak akan lagi ada yang mau membaca media picisan.

"Motto Media yang selalu jadi rujukan karena enak dibaca dan perlu, sudah tidak lagi. Berubahlah, atau ditinggalkan. Masyarakat sudah cerdas," pungkasnya.

like
dislike
love
funny
angry
sad
wow
Login dengan
LIVE TV & NETWORK